Penutupan Kajur Cup 2013

Penutupan Kajur Cup 2013 Jumat, 10 januari 2014 5 Januari 2014

Kunjungan STAIN Batusangkar Sumatra Barat

Kunjungan dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Batusangkar Sumetra Barat Kamis, 9 Januari 2014

Buletin Online HMJ Matriks

Peringatan Hari Ibu Edisi II, 30 Desember 2013

Temu Demisioner

Temu Demisioner 2013 Jumat, 27 Desember 2013

Buletin Islami HMJ Matriks

BULAN MUHARRAM PENUH BERKAH Edisi 2, 30 Dzulhijjah 1434 H/4 November 2013

Next Efent


widgeo.net

Senin, 18 Mei 2015

Buletin Islami

Edisi VIII/Mei 2015
Isra’ Mi’raj
Dari Relativitas Einstein Hingga Dimensi Lain



Buletin Islami

Edisi VII/April 2015
Bulan Rajab, Bulan Haram


Kamis, 07 Mei 2015

Matriks Mathematics Olympiad (MMO) 2015: Agenda Besar HMJ Matriks

Matriks Mathematics Olympiad atau seringkali disingkat menjadi MMO adalah Olimpiade Matematika yang diselenggarakan oleh HMJ Matriks. Tahun ini, MMO akan diselenggarakan pada tanggal 22 Maret 2015 serta dilaksanakan serentak di 13 rayon. Peserta MMO 2015 terdiri dari jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.  Kegiatan ini bertujuan untuk menyaring bibit-bibit terbaik dalam bidang matematika dan dapat meraih juara pada olimpiade matematika berikutnya yang diselenggarakan oleh IKAHIMATIKA tingkat nasional.
            Matriks Mathematics Olympiad 2015 ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Selain tingkat rayon yang semakin meluas yakni se-Jawa Timur dan Bali, dari peserta pun ditambah menjadi jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Babak penyisihannya sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2015, serentak di 13 rayon. Pada babak penyisihan ini nantinya akan dipilih 5 peserta dari setiap rayon dengan nilai tertinggi dari masing-masing jenjang untuk melanjutkan ke babak semifinal yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 2015 di Universitas Muhammadiyah Malang.
            Babak final MMO 2015 juga dilaksanakan pada tanggal 26 April 2015. Dari babak semifinal, akan dipilih 30% dari seluruh total peserta dari tiap jenjang untuk melanjutkan ke babak final. Pada babak final, hanya ada dua soal penalaran yang harus dikerjakan oleh peserta lalu dilanjutkan dengan presentasi untuk menjelaskan jawaban dari soal tersebut.
            Tingkat kesulitan soal-soal pada MMO 2015 ini dinilai naik satu level dari tahun-tahun sebelumnya. Tim penyusun soal MMO 2015 mengaku bahwa mereka sedikit kesulitan dalam menyusun soal-soal olimpiade ini,”Banyak soal-soal yang sudah kita buat, tapi saat dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, malah dicoret semua. Jadi ya kita buat soal lagi,” ujar Mar’atus Solikhah koordinator tim penyusun soal. Tapi, dibalik naiknya tingkat kesulitan soal MMO 2015 ini akan melahirkan the real winner.
            Seluruh panitia MMO 2015 saat ini tengah gencar melakukan publikasi baik secara online maupun offline. 1600 leaflet telah disebar ke seluruh rayon, dan blog hmj-matriks-umm.blogspot.com yang sempat vakum selama beberapa minggu pun kini mulai aktif kembali dengan adanya artikel-artikel dan revisi peraturan MMO 2015. Apalagi, ditambah dengan pendaftaran MMO 2015 yang dilakukan secara online, membuat tim pubdekdok harus bekerja keras. Namun, dibalik kerja keras dari seluruh panitia MMO 2015, tersirat harapan bahwa MMO 2015 ini harus mendulang sukses dan dapat melahirkan generasi yang berkompeten dalam matematika. Mathematics Is Your Success Key, Get It! (IMN)


Refleksi: Sudahkah Pendidikan Inklusi Berjalan Optimal?

Sangat bersyukur jika pendidikan inklusi sudah diterapkan hampir merata bukan di Pulau Jawa saja, di daerah-daerah luar Jawa pun juga sudah mulai menerapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menjalankan kewajibannya untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel), sesuai dengan UUD 1945 pasal 31 (1) mengatakan bahwa  “tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran”. Walaupun dalam pelaksanaannya berjalan kurang lancar karena terbatasnya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para guru sekolah inklusi menunjukkan betapa sistem pendidikan inklusi belum benar – benar dipersiapkan dengan baik. Apalagi sistem kurikulum pendidikan umum yang ada sekarang memang belum mengakomodasi keberadaan anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel). Sehingga sepertinya program pendidikan inklusi hanya terkesan program eksperimental. Namun, disamping itu semua pemerintah sudah mencoba menghilangkan hambatan-hambatan penderita difabel untuk berkembang, sesuai dengan hakikat pendidikan inklusi itu sendiri yaitu pelayanan pendidikan anak berkebutuhan khusus yang dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Pendidikan inklusi di Indonesia ini akan lebih baik dan berjalan secara optimal jika pemerintah menyiapkan terlebih dahulu segala sesuatu yang dapat menunjang lancarnya pendidikan inklusi tersebut, baik itu berupa sarana dan prasarana maupun tenaga pendidik yang sudah dibekali dengan pendidikan khusus untuk mengajar ABK. Namun, yang masih menjadi pertanyaan pada benak saya adalah, sudahkah pendidikan inklusi di Indonesia berjalan optimal dan sesuai dengan ketentuan pemerintah? Atau mungkinkah pendidikan inklusi yang terlihat berkembang ini hanya pencintraan dari institusi tertentu saja agar mendapat simpati dari masyarakat, tetapi pada realitanya sarana dan prasaranya begitu kurang? Inilah fungsi masyarakat sebagai pengontrol kinerja pemerintah dalam menjalankan pendidikan inklusi, kita harus turut berperan aktif mendukung adanya program pendidikan inklusi ini. Berangkat dari hal-hal kecil saja semisal tidak mengolok mereka yang termasuk dalam ABK, dan ikut memberi motivasi agar para ABK merasa dirinya tetap dibutuhkan oleh masyarakat serta lingkungannya. Sudah menjadi suatu keharusan bagi masyarakat untuk mengetahui hakikat pendidikan yakni, memanusiakan manusia. Oleh karena itu, masyarakat sebisa mungkin menghargai usaha mereka (para ABK) yang mau berjuang untuk menuntut ilmu, dan untuk institusi tempat mereka belajar, berusahalah memberikan fasilitas yang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, begitu pula dengan pemerintah, siapkan sarana-prasarana yang memang dibutuhkan untuk menunjang proses pembelajaran para ABK, bukan malah mempersulit proses pelengkapannya. Ketiga komponen ini memang harus saling bekerja sama guna terciptanya pendidikan inklusi yang optimal.


Kilas Balik Pendidikan di Indonesia


                Pendidikan merupakan salah satu tonggak kemajuan bangsa. Pendidikan diharapkan menjadi wadah untuk mencetak generasi penerus bangsa yang dapat membawa Indonesia untuk bersaing dengan negara maju lainnya di dunia. Namun, untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas tidak semudah membalik telapak tangan. Begitu banyak rintangan dan banyak perbaikan sana-sini untuk mencapai tujuan utama.
                Masalah utama dari pendidikan di Indonesia yang hingga saat ini masih belum dapat diatasi adalah masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, dan masalah relevansi pendidikan.
1.      Masalah Pemerataan Pendidikan
Pendidikan di Indonesia masih belum bisa memberikan kesempatan kepada seluruh anak negeri untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Tidak usah kita mencari contoh yang jauh, cukup yang dekat daja semisal di Malang. Kota Malang dengan segala fasilitasnya dan dipandang lebih maju dari kota-kota kecil lainnya (seperti Probolinggo dan Pasuruan), ternyata masih memiliki sekolah yang tidak terawat, tidak memiliki fasilitas lebih, dan siswa-siswanya yang masih tidak mengenakan sepatu. Padahal, lokasi sekolah cukup dekat dengan pusat kota. Miris bukan? Hal inilah yang masih menjadi masalah krusial bangsa Indonesia. Padahal, sudah tertulis di undang-undang bab XI, pasal 17 bahwa “Setiap  Indonesia rnempunyai hak yang sama untuk diterima menjadi murid suatu sekolah jika syarar-syarat yang ditetapkan untuk pendidikan dan pengajaran pada sekolah itu dipenuhi.”
                Masalah pemerataan pendidikan dipandang penting bagi anak-anak, agar mereka dapat mengenyam bangku sekolah dasar. Karena dari sekolah dasarlah mereka mendapatkan kemampuan membaca, menulis dan menghitung sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan informasi maupun teknologi yang semakin dinamis.
2.      Masalah Mutu Pendidikan
                Mutu pendidikan akan dipermasalahkan jika pendidikan belum mencapai hasil yang diharapkan. Penetapan mutu hasil pendidikan pertama dilakukan oleh lembaga penghasil sebagai produsen tenaga terhadap calon luaran, dengan sistem sertifikasi. Selanjutnya jika luaran rersebut terjun ke lapangan kerja penilaian dilakukan oleh lembaga pemakai sebagai konsumen tenaga dengan sistem tes unjuk kerja.
                Pada akhirnya, mutu pendidikan dilihat dari kualitas keluarannya. Hingga saat ini, untuk mengukur kualitas output, pendidikan Indonesia masih mengasosiasikannya dengan hasil belajar seperti Ujian Nasional, SBMPTN, SIPENMARU, dsb. Nilai-nilai tersebut masih digunakan untuk menggambarkan hasil pendidikan Indonesia.
                Padahal, jika Indonesia masih menerapkan hasil belajar sebagai tolak ukur kualitas outputnya, maka cenderung orang-orang akan terfokus kepada nilainya sehingga mereka dapat melakukan berbagai cara agar hasil belajar mereka menjadi terlihat cemerlang. Ini sama halnya dengan memikirkan kuantitas daripada kualitas. Mengapa? Iya jelas karena mereka mau melakukan apapun demi hasil belajar mereka menjadi yang terbaik. Sebagai contoh saja, sudah menjadi rahasia umum bahwa pada pelaksanaan Ujian Nasional terdapat beberapa oknum yang menjual kunci jawaban Ujian Nasional kepada siswa, bahkan kepada guru. Hal ini mereka lakukan agar nilai Ujian Nasional mereka menjadi yang terbaik. Untuk sekolah yang rela melakukan transaksi jual beli kunci jawaban ini, semata untuk menjaga akreditasi sekolah agar tidak turun.
                Inilah yang harus segera ditindak lanjuti. Bukan hanya menindak lanjuti para oknum-oknum penjual kunci jawaban, tetapi juga menindak lanjuti sistem pengukuran kualitas output pendidikannya.
3.      Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan mempersoalkan bagaimana suatu system pendidikan mendayagunakan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Jika penggunaannya hemat dan tepat sasaran dikatakan efisiennya tinggi. Jika terjadi yang sebaliknya, efisiensi tensinya berartl rendah.

Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah :
a.    Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan.
b.    Bagaimana sarana dan prasarana kependidikan difungsikan.
c.    Bagaimana pendidikan diselenggarakan.
d.    Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.
4.      Masalah Relevansi Pendidikan
                Masalah relevansi pendidikan mencakup seberapa jauh pendidikan memberikan sumbangsih terhadap pembangunan negara. Sebenarnya kriteria relevansi seperti dinyatakan tersebut cukup ideal jika dikaitkan dengan kondisi sistem pendidikan pada umumnya dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut :
·         Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam – macam kualitasnya.
·         Sistem pendidikan tidak pernah menghasilkan iuran siap pakai. Yang ada ialah sikap kembang
·         Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh lembaga – lembaga pendidikan untuk menyusun programnya tidak tersedia.
Dari keempat macam masalah pendidikan tersebut masing – masing dikatakan teratasi jika pendidikan :
·         Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya: Semua warga negara yang butuh pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan pendidikan.
·         Dapat mencapai hasil yang bermutu, artinya: Perencanaan, pemrosesan pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
·         Dapat terlaksana secara efisien, artinya: Pemrosesan pendidikan sesuai dengan rancangan dan tujuan yang ditulis dalam rancangan.
·         Produknya yang bermutu tersebut relevan, artinya: Hasil pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.